• Sunday, 27 - 11 - 2022
  • Waktu Server 12:20 WIB

Waspadai Kasus Gagal Ginjal Akut Misterius Pada Anak

Caption: Ilustrasi gagal ginjal akut pada anak. (Freepik.com)

SoloposFM – Kasus gangguan ginjal akut misterius di Indonesia terus bertambah. Berdasarkan data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), hingga Jumat (14/10/2022) kasus gangguan ginjal telah menyerang 152 anak di Indonesia. Kasus tersebut tersebar di 16 provinsi, yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, D.I Yogyakarta, Banten, Bali, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Aceh, Sumatera Barat, Jambi Kepulauan Riau, Papua Barat, Papua, dan Nusa Tenggara Timur.

Meskipun kasus ini sudah ada sejak Januari 2022, namun penyakit yang belum dketahui penyebabnya ini baru mengalami pelonjakan signifikan pada September 2022.

Gangguan ginjal akut misterius ini berbeda dengan gangguan ginjal pada umumnya. Penderita yang mengidap penyakit ini sebelumnya sehat dan tidak memiliki penyakit kronis maupun kelainan ginjal bawaan.

Penyakit ginjal yang lebih banyak menyerang anak berusia di bawah 6 tahun ini juga bisa memburuk dengan cepat. Karena karakteristiknya tersebut, IDAI menjuluki penyakit ini sebagai gangguan ginjal akut progresif atipikal.

Sayangnya, hingga saat ini, penyebab gagal ginjal akut misterius pada anak ini belum diketahui secara pasti.

Baca juga: Begini Cara Menjaga Kesehatan Mental Menurut Psikolog

 

Kenali Gejala

Unit Kerja Koordinasi (UKK) Nefrologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr. Eka Laksmi Hidayati, Sp.A (K) menyebutkan bahwa orangtua mesti mencurigai bila sudah terlihat gejala gangguan ginjal pada anak.

“Tubuh mengalami pembengkakan. Mata dan kaki bengkak. Bengkak itu simetris antara bagian kanan dan kiri,” ujar dr. Eka.

Menutip Antaranews, Staf Divisi Nefrologi – Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSCM itu juga mengatakan bahwa adanya darah dalam urin, baik makroskopik (kasat mata) atau mikroskopik (tidak kasat mata), yang disebut hematuria.

“Terjadi peningkatan jumlah leukosit (sel darah putih) pada urin. Ini menandakan adanya infeksi,” imbuh dr. Eka.

Ia menambahkan bahwa terjadi proteinura, peningkatan pengeluaran protein melalui urin. Selain itu, terjadi penurunan produksi urin atau oliguria.

“Anak mengalami hipertensi. Namun yang patut diperhatikan adalah anak tetap diberikan obat agar mencapai nilai normal. Dan obat hipertensi tidak merusak ginjal,” imbuh dr. Eka.

Dampak gangguan ginjal, sambungnya, adalah anak mengalami gangguan pertumbuhan, pucat, kelainan tulang, sesak, dan demam berulang.

“Pasien diharapkan datang lebih awal untuk mencegah anak menjadi gagal ginjal sehingga membutuhkan cuci darah. Lakukan pemeriksaan laboratorium, seperti darah lengkap, ureum, elektrolit, profil lipid, dan urin lengkap. Kemudian, pencitraan, yakni USG, CT-Scan, dan MRI, juga biopsi ginjal,” ungkap dr. Eka.

Baca juga: Jadi Perhatian Serius Danone Indonesia dan AMSI, Ini Dampak dan Pencegahan Stunting

 

Langkah Preventif

Sementara itu, Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP), Brian Sri Prahastuti, mengingatkan para orang tua untuk mewaspadai dan bertindak cepat jika anak menunjukkan gejala awal gangguan ginjal akut, seperti batuk, pilek, diare, muntah, urine yang sedikit, atau tidak ada produksi urine sama sekali.

“Jika anak-anak mengalami keluhan, kami mengimbau para orang tua untuk tidak melakukan self-diagnose. Sebaiknya, segera berkonsultasi dengan dokter di fasilitas kesehatan terdekat,” kata Brian dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu (16/10/2022).

Brian juga menekankan pentingnya langkah preventif untuk memberikan jumlah cairan yang cukup pada anak-anak.

Saat ini, kata Brian, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bersama Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dan tim dokter Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) membentuk tim untuk menyelidiki kasus gangguan ginjal akut pada anak.

Kemenkes juga sudah menerbitkan tata laksana dan manajemen klinis gangguan ginjal akut progresif Atipikal sebagai kerangka acuan bagi fasilitas kesehatan jika menemukan anak dengan kasus tersebut di wilayahnya.

Jurnalis di Radio Solopos FM Group. Menulis konten di Solopos FM Group yaitu website soloposfm.com dan Radio Solopos FM.
Lihat Seluruh Tulisan

Tinggalkan Komentar