• Sunday, 19 September 2021
  • Waktu Server 11:59 WIB

UMKM dan Pasar Tradisional Go Digital, Disdag Kota Solo: Penjual dan Pembeli Harus Gayung Bersambut

Caption: Warga melakukan transaksi menggunakan metode bayar scan QRIS dengan aplikasi DOKU e-Wallet di Pasar Tradisional Prawirotaman, Yogyakarta, Minggu (5/9/2021). ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/aww.

SoloposFM, Pemkot Solo mulai memberlakukan Go Digital di 44 pasar tradisional. Hal itu dilakukan sebagai upaya pemulihan ekonomi di masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 3 ini.

Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka mengatakan dengan adanya transaksi cashless atau non tunai maka bisa memudahkan transaksi masyarakat dan aman dari penularan Covid-19.

Lebih Lanjut, ia menyebut antara ekonomi dan kesehatan harus berjalan beriringan. Gibran menambahkan pedagang di pasar juga tetap harus menerapkan protokol kesehatan Covid-19 dengan 5M.

Sejalan dengan pemberlakuan transaksi digital, Kepala Disdag Solo, Heru Sunardi, mengatakan 17 pasar di Solo juga sudah melakukan pembayaran retribusi non tunai.

 

Saling Mendukung

Heru Sunardi, Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Solo dalam Dinamika 103 SoloposFM, Kamis (9/9/2021) memaparkan Go Digital terjadi ketika penjual dapat memasarkan dagangannya lewat digital dan melakukan transaksi pembayaran secara digital. Dalam praktiknya, transaksi tersebut menggunakan qris yang bisa dipindai dengan berbagai jenis pembayaran, seperti OVO, LinkAja, Gopay, maupun mbanking.

Heru menambahkan saat ini sudah beberapa pasar yang menerapkan transaksi digital, termasuk pasar yang sudah bekerja sama dengan Grab. Selain itu, para pembeli yang sudah memiliki toko langganan bisa memesan lewat pesan pribadi dan menggunakan fasilitas antar, seperti  Shopee, Grab, Gojek, dan lainnya karena sudah bekerja sama dengan Pemerintah Kota Solo.

 

Baca juga: KPK Peringatkan 36 Kepala Daerah di Jateng Jauhi Korupsi

 

Program Go Digital ini pun mendapat respon yang beragam dari pedagang. Sebagaian dari mereka masih kesulitan akibat belum adanya perangkat pendukung dan adanya pemikiran ‘menjual langsung dapat uang’. Namun, sebagian pedagang justru mengaku nyaman dengan transaksi digital berkat kepraktisannya.

Terlepas dari hal tersebut, transaksi digital menawarkan berbagai kemudahan,  pembeli tidak perlu bawa uang tunai dan menunggu uang kembalian. Hal tersebut otomatis lebih aman dari kriminalitas.

“Namanya program baru pasti ada plus dan minusnya. Semua butuh proses. Selain itu, antara penjual dan pembeli harus gayung bersambut saling mendukung. Para pembeli dapat mendukung hal tersebut dengan mengunduh aplikasi pendukung dan mulai melakukan kegiatan-kegiatan transaksi digital,” ungkap Heru.

 

Opini Sobat Solopos

Dalam Program Dinamika, Kamis (9/9/2021), Sobat Solopos mengaku siap dan belum siap terapkan Go Digital. Hal itu terlihat dari hasil polling yang menunjukkan hasil seimbang. Sebesar 50% Sobat Solopos mengaku sudah siap dengan Go Digital. Sedangkan 50% lainnya mengaku belum siap.

Polling Go Digital

Berikut Sejumlah Opini Sobat Solopos

“Selama ini saya dan istri sering belanja di Pasar Kadipolo, tetapi masih menggunakan pembayaran tunai dan baru beberapa pedagang yang gunakan pembayaran digital. Kalau ke depannya mau digalakkan digital, harus memiliki jaringan internet/wifi yang lancar agar pembayaran non tunai tidak terkendala. Jangan lupa juga untuk selalu mensosialisasikan pembayaran digital ini dengan media elektronik, seperti radio, tv, maupun Koran,” ungkap Priyanto.

“Siap Go Digital. Saya rasa bukan hal yang sulit asal membiasakan diri,” tutur Dika.

“Semoga jika nanti sudah bisa Go Digital semua, tetap tidak meninggalkan kesan ‘tradisional’ nya, dalam hal ini tawar menawar. Hal tersebut karena sudah menjadi seni dan budayanya di pasar tradisional,” tutup Dewi.

 

[Diunggah oleh Dany Sekty Anggoro]

About author
Jurnalis di Radio Solopos FM Group. Menulis konten di Solopos FM Group yaitu website soloposfm.com dan Radio Solopos FM.
Lihat Seluruh Tulisan

Tinggalkan Komentar