• Monday, 29 November 2021
  • Waktu Server 06:08 WIB

Secangkir Kopi dari Bumi Intanpari

Caption:

SoloposFM, Kopi Jawa (adalah kopi yang berasal dari Pulau Jawa di Indonesia. Kopi ini sangatlah terkenal sehingga nama Jawa menjadi nama identitas untuk kopi. Kopi yang ditanam di Jawa Tengah pada umumnya adalah kopi Arabika. Salah satu kopi Jawa yang ada di Jawa Tengah salah satunya berasal dari Tawangmangu Kabupaten Karanganyar. Dimana kopi yang ada type S line atau asli peninggalan Belanda.

 

Kopi di lereng Gunung Lawu memiliki sejarah besar pada abad 18. Pada masa itu, pemerintah Hindia Belanda memilih lereng Lawu untuk bermukim dan mengembangkan kopi arabika dan robusta. Budidaya kopi Karanganyar Lawu juga tidak lepas dari Adipati Mangkunegara IV yang berhasil mengembangkan kopi sehingga saat itu Kadipaten Mangkunegara dapat membangun kavaleri terbesar dijamannya.

 

Solopos FM bersama Tim P4GN (Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba) Karanganyar, mengupasnya dalam Serba Serbi Inspirasi di Bumi Intanpari. Diketahui, P4GN diketuai langsung oleh Wakil Bupati Karanganyar, Rober Christanto.

 

Dalam program Serba-Serbi Inspirasi di Bumi Intanpari, Kamis (15/04/2021), secara khusus membahas tema “Secangkir Kopi dari Bumi Intanpari”. Hadir sebagai narasumber Bimo Aji Sudarsono (Pegiat Kopi Karanganyar), M.A. Miftahul Adn (Barista Trainer) dan Rusdi (Petani Kopi).

 

 

 

Baca juga : Tidak Melulu Uang, Gantikan THR dengan Ini Untuk Momen Hari Raya Lebih Berkesan

 

Rusdi salah satu petani kopi Lawu menjelaskan para petani di Lawu lebih banyak menanam kopi jenis arabika. Para petani juga harus bisa melakukan pembibitan secara mandiri. Sehingga banyak petani kopi di lereng Lawu yang beralih ke tanaman yang lain yang lebih cepat menghasilkan.

 

“Baru dua tahun terakhir komunitas mulai menanam kembali bibit kopi seluas satu hektare. Salah satunya di Desa Gondosuli, Tawangmangu, pohon kopi merupakan sisa pohon peninggalan Belanda,” ungkapnya.

 

Bimo Aji Sudarsono, pegiat Kopi Karanganyar mengaku selalu kewalahan untuk memenuhi permintaan kopi dari pasar dalam negeri maupun luar negeri seperti Taiwan, karena produksi kopi yang terbatas. Ia berharap sektor swasta maupun pemerintah mampu menggenjot produksi kopi Karanganyar Lawu.

 

Berbisnis Kopi

 

Selain sebagai ketua Komunitas Petani Kopi, Aji juga mengembangkan warung kopi ditengah kampung. Upaya ini dilakukan, untuk mengenalkan Kopi Karanganyar Lawu dan menggali potensi desa dengan agro wisatanya.

 

Sosialisasi terus dilakukan, terutama kepada kaum millenial agar tidak takut untuk bertani, khususnya kopi. Karena kopi memiliki prospek bagus dimasa depan. Rusdi merupakan contoh pemuda yang terjun menjadi petani, hingga di usianya yang kini berusia 30-an tahun.

 

Selain kedai kopi yang terletak di Banaran, Gondosuli, Tawangmangu banyak komunitas dan kedai kopi yang juga turut mempromosikan kopi Karanganyar.

 

Popularitas kopi Karanganyar Lawu pun mulai terdongkrak. Ini ditandai dengan mulai diterimanya kopi tersebut di beberapa tempat seperti di komplek perkantoran Karanganyar.

 

Kegiatan Positif

 

Dengan maraknya kedai kopi, muncullah barista. Barista adalah pekerjaan membuat dan menyajikan kopi yang berbasis espresso kepada pelanggan. kata “barista” merupakan bahasa dari Italia yang berarti “pelayan bar”, dan barista adalah posisi yang terhormat.

 

M.A. Miftahul Adn mengungkapkan, barista biasanya bekerja di kedai kopi, toko buku, atau di tempat minum yang menyajikan minuman khusus kopi atau espresso. Hal ini tentu juga menjadi salah satu kegiatan atau aktivitas positif agar pemuda tidak melakukan hal negatif seperti penyalahgunaan narkoba.

 

[Diunggah oleh Avrilia Wahyuana]

About author
Jurnalis di Radio Solopos FM Group. Menulis konten di Solopos FM Group yaitu website soloposfm.com dan Radio Solopos FM.
Lihat Seluruh Tulisan

Tinggalkan Komentar