• Monday, 29 November 2021
  • Waktu Server 06:13 WIB

Penipuan Arisan Online, Sosiolog UNS : Jangan Percaya Testimoni, Harus Diimbangi Literasi Digital!

Caption: sumber foto : freepik.com

[SPFM] Mengikuti arisan memang bisa memberikan dampak positif. Seiring dengan perkembangan teknologi, arisan juga kian berkembang. Jika biasanya dilaksanakan secara konvensional, kini arisan bisa dilakukan secara online. Tapi perlu hati-hati ya jika Sobat ingin mengikuti arisan online.

Pasalnya, kini penipuan berkedok arisan online marak terjadi di masyarakat. Hanya bermodalkan ponsel pintar, banyak orang jahat yang menggunakan arisan online menjadi modus penipuan baru.

Baca juga : Hari PMI Di Tengah Pandemi, PMI Solo Termasuk Penyedia Plasma Konvalesen Terbesar

 

Maraknya kasus arisan online di Soloraya beberapa waktu terakhir menjadi catatan tersendiri para pemangku kepentingan di wilayah ini. Apalagi jumlah korban dan nilai kerugian dalam kasus ini tak sedikit. Di satu sisi kasus ini menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi aparat penegak hukum untuk menuntaskannya. Di sisi yang lain kasus ini menunjukkan sebuah fenomena sosial warga.

 

Pandangan Sosiolog

 

Ahmad Romdhon, Sosiolog UNS dalam Dinamika 103 SoloposFM, Selasa (21/09/2021),  mengungkapkan momentum pandemi Covid-19 otomatis mengakselerasi akses kepada budaya online, karena keterbatasan mobilitas atau ruang gerak.

“Dampak keterbatasan mobilitas secara tak langsung ke pendapatan. Karena tuntutan situasi dan kondisi saat ini, arisan online lantas menjadi model baru yang dijalani sejumlah orang,” ungkap Romdon.

Praktik arisan online sangat ditunjang dengan semakin masifnya akses terhadap teknologi informasi yang membuat munculnya beragam bentuk adaptasi dari budaya lama atau arisan. Arisan menurut Romdhon merupakan budaya masyarakat. Namun seiring perkembangan teknologi yang semakin pesat, akhirnya budaya lama itu akhirnya diadaptasikan.

“Infrastruktur teknologi kan terus didorong aksesnya lebih luas terhadap digital. Pandemi memaksa masyarakat bermigrasi secara cepat dan banyak yang belum siap. PR nya adalah budaya literasi digital kita tidak sebanding dengan infrastruktur digital. Akibatnya orang asal percaya saja dengan online,” papar Romdhon.

Baca juga :  Bioskop Kembali Dibuka, Sobat Solopos: Prokes Harus Ketat!

 

Menurut Romdhon, masyarakat juga masih berasumsi bahwa lembaga keuangan memiliki birokrasi yang panjang. Mereka memilih sumber pendanaan yang cepat padahal belum jelas legalitasnya.

“Pilih akses sumber pendanaan legal yang dipantau OJK. Jangan percaya tertimoni karena resikonya besar. Ini (penipuan arisan online) nggak hanya di Solo, tapi juga masalah nasional. Arisan baik offline maupun online harus dilihat akses sumber pendanaannya dan juga bangun kepercayaan besama,” pungaksnya.

 

Opini Sobat Solopos

 

Dalam Dinamika 103 SoloposFM, Selasa (21/09/2021),  Sobat Solopos mayoritas mengaku memilih arisan offline daripada arisan online yang dinilai beresiko.

 

Berikut sejumlah opini Sobat Solopos:

 

“Menurut saya arisan online maupun konfensional pasti ada resikonya, yaitu dana atau uang yang disetorkan hilang. Saya yakin dan percaya pada awalnya pasti bagus dan baik, sehingga anggotanya bertambah banyak dari situlah awal dari masalahnya. Mungkin cara managemennya salah atau memang disengaja dilarikan dananya,” tulis Kartiman.

“Kalau saya pilih offline, itupun masih pilih-pilih. Yang jelas harus ukur kemampuan finansial kita, sebelum ikut arisan, dan di pahami dengan benar dan jelas aturannya. Karena kalau nominal besar atau peserta banyak, biasanya bandar arisan itu pasti di awal ada seperti perjanjian dengan peserta arisan. Lebih baik kalau kita mengenal dengan dekat  bandar arisannya,” ungkap Nur Syamsiah.

“Saya lebih suka arisan yang offline daripada online. Takut adanya penipuan. Jangankan yang online yang offline saja kadang sulit untuk menagih. Bila sudah dapat arisan 2 atau 3 kali lancar bayar setelah itu sulit dihubungi bahkan bisa saja pura-pura lupa. Ini sudah saya alami saat saya menjadi pengurus di perumahan sampai nagih uang arisan seperti saya nagih piutang saya. Kasihan yang belum dapat arisan kalau tidak diberesi. Setelah kejadian ini saya langsung memberitahukan ke Pak RT agar tidak usah diadakan arisan bapak-bapak lagi. Kuncinya arisan adalah orang yang jujur dan konsisten dengan tanggung jawabnya untuk selalu bayar arisan tepat waktu,” papar Priyanto.

“Harus ada kecerdasan finansial dalam situasi apapun. Di era digital ini orang semakin dimudahkan tanpa memikirkan resiko akibatnya. Perlu ada turut campaur tangan OJK dan pihak terkait dalam mengawasinya,” ungkap Ahmad Sanusi.

“Tentang  arisan online sudah sering terjadi kasus arahnya penipuan dan korbannya banyak. Dan anehnya kejadian begini tak bikin orang kapok. Tetap saja banyak yang tergiur.  Kalau saya ngga tertarik dan ngga percaya karena biasanya sistem dan hasilnya tak masuk akal. Kalo yang online belum pernah ikut kalau yang offline pernah ikut dan pernah jadi korban juga. Di masa pandemi sekarang justru modus arisan online semakin banyak gentayangan dan selalu cari celah untuk orang-orang yang baru kesulitan dan cari jalan instan jadi harus lebih waspada saja,” tulis Yanti.

“Banyak warga +62 ang berharap dapat untung banyak dalam waktu yang singkat. Untuk saya pribadi = Arisan online, investasi dengan iming-iming hasil besar, NO WAY !!!!” ungkap Rita.

 

[Diunggah oleh Avrilia Wahyuana]

About author
Jurnalis di Radio Solopos FM Group. Menulis konten di Solopos FM Group yaitu website soloposfm.com dan Radio Solopos FM.
Lihat Seluruh Tulisan

Tinggalkan Komentar