Kwartet Dalang Milenial SD Muhammadiyah 1 Ketelan Filmkan Lakon “Sang Hanuman”

Kwartet Dalang Milenial SD Muhammadiyah 1 Ketelan Filmkan Lakon “Sang Hanuman”

SoloposFM, – Empat dalang milenial SD Muhammadiyah 1 Ketelan Solo terlibat produksi shooting film documenter, di sanggar Madhangkara, Sawahan, Karanganyar. Mereka adalah Gibran Maheswara Javas Setyawan (kelas II), Galen Bianco Hartono (kelas III), Muhammad Azkhavin Rizky Wiratama (kelas V) dan Brama Kesawa (kelas I). Lakon “Sang Hanuman” dibawakan dalam film ini dibawah binaan Ki Agung Sudarwanto, M.Sn yang juga merupakan anggota Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) Kota Solo.

“Ekstrakurikuler pedalangan, karawitan dan Tari SD Muhammadiyah 1 Ketelan Solo, memperlihatkan perkembangan menggembirakan. Melalui ekstrakurikuler, seni tradisional seperti karawitan, wayang kulit dan tari diperkenalkan kepada pelajar. Harapannya kita tidak kehilangan seni budaya yang banyak mengandung nilai-nilai moral dan pendidikan. Setiap anak dilahirkan sebagai pribadi yang unik. Artinya, bakat dan kemampuan menjadi tolok ukur utama bagi orang tua dan sekolah,” ujar Jatmiko, Wakil Kepala Sekolah bidang Humas, Jatmiko, SD Muhammadiyah 1 Ketelan Solo, dalam rilis yang diterima Solopos FM.

Menurut Jatmiko, sebagai Sekolah Sehat Berkemajuan (SSB) berbasis karakter, agama dan budaya, pihaknya konsisten mendidik siswa berbakat seni dan siap melatih pangrawit menjadi seniman muda. Harapannya, untuk juga dapat mengedukasi bahasa Jawa kepada pelajar, mengingat saat ini penggunaan bahasa tersebut makin minim.

Film dokumenter ini merupakan hasil kerjasama dengan salah satu stasiun Televisi Jawa Tengah. Melalui program tersebut, diharapkan membuka kesadaran masyarakat untuk merawat wayang. Rencananya, keempat dalang bocah ini, juga akan dipertemukan dengan dalang kondang, Ki Manteb Soedharsono.

Salah satu dalang cilik, Gibran Maheswara Javas Setyawan, mengaku bahwa sebagai dalang cilik, ia harus dapat mengolah kata melalui pesan-pesan verbal yang bisa ditangkap kawan sekolahnya.

“Ya banyolan-banyolannya saya kemas dalam bahasa sehari-hari seperti ngobrol dengan teman di sekolah. Biar pesannya lebih masuk di ingatan,” ucap Gibran.

[Diunggah oleh Avrilia Wahyuana]

 

Post Comment