• Monday, 27 September 2021
  • Waktu Server 22:42 WIB

Ancaman Lost Generation, Psikolog Sosial : Diantisipasi Dengan Tetap Buat Kebiasaan Baik!

Caption: sumber foto : freepik.com

SoloposFM, Banyak pihak mengkhawatirkan terjadinya fenomena generasi yang hilang atau lost generation akibat terabaikannya pendidikan anak-anak selama era pandemi. Padahal, pemerintah sudah memproyeksikan program menyongsong generasi emas 2045.

Peta jalan menuju terwujudnya generasi emas tepat pada saat negeri ini merayakan hari ulang tahun kemerdekaan (HUT) ke-100 RI juga telah dirancang. Pada 2045 itulah negeri tercinta akan menikmati bonus demografi. Generasi emas usia produktif yang berkarakter, berkompeten, dan berliterasi tinggi berlimpah. Impian itu terancam gagal, seiring terjadinya pandemi covid-19, yang sudah berlangsung hampir setahun.

Di bidang kesehatan, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), mengungkapkan saat ini dokter anak di seluruh dunia sedang memikirkan risiko buruk dari pandemi COVID-19, yakni lost generation. Sejumlah masalah yang timbul diantaranya Risiko Kelahiran di Pandemi, Masalah Tumbuh-Kembang Anak-anak, Kesulitan Akses Imunisasi, hingga Masalah Psikologi Anak-anak.

Baca juga : UMKM dan Pasar Tradisional Go Digital, Disdag Kota Solo: Penjual dan Pembeli Harus Gayung Bersambut 

 

Psikolog Sosial

 

Sejumlah kalangan mendukung adanya langkah diizinkannya pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM). Pasalnya, apabila kondisi belajar secara daring diterapkan terus menerus, ditakutkan terjadi lost generation di kalangan pelajar.

Hening Widyastuti, Psikolog Sosial dari Universitas Sebelas Maret, dalam program Dinamika, Jumat (10/09/2021), mengungkapkan metode belajar di rumah secara daring tanpa pengawasan guru yang maksimal berpotensi terjadinya lost generation. Artinya, ditakutkan terjadinya penurunan kualitas pendidikan akibat ilmu yang disampaikan guru tidak bisa dipahami oleh semua murid.

“Adanya PTM tentu akan banyak yang mendukung. Banyak keluhan dari orangtua dan murid yang sudah sangat jenuh dengan metode PJJ. Karena orang tua banyak yang pusing mengajari anaknya di rumah karena sulit memahami materi ditambah anak-anak lebih banyak main game daripada belajar saat PJJ ini. Adanya PTM ini diharapkan bisa mengantisipasi terjadinya lost generation karena sudah 1,5 tahun ini tidak mengalami pelajaran tatap muka,” ungkap Hening.

Baca juga : Keren! Pemuda Malangjiwan Ubah Sampah Jadi Berkah Melalui Project Sedekah Sampah

 

Hening menilai, peran sekolah dengan adanya PTM juga tak hanya mengajari pendidikan wajib melainkan juga pendidikan moral dan sosial. Namun, selama PTM belum bisa dilakukan maksimal, maka orangtua juga harus membangun mental dan moral anak dengan membuat kebiasaan yang baik setiap harinya.

“Harus tetap bangun pagi. Mandi dan berbaju rapi kala zoom meeting dan makan tepat waktu. Kebiasaan itu harus dibiasakan walau anak belum PTM” pungaks Hening.

 

Opini Sobat Solopos

 

Sobat Solopos dalam program Dinamika, Jumat (10/09/2021), sepakat ancaman lost generation ini mengkhawatirkan. Mereka juga meminta metode pendidikan secara daring harus dipertimbangkan kembali.

Berikut sejumlah opini Sobat Solopos:

 

“Lost Generation memang harus dipikirkan solusinya. Dari segi pendidikan saja misalnya, kalau secara daring terus menerus maka perkembangan mental anak terancam tidak bisa berkembang karena pergaulan anak hanya disekitar rumah saja. Pertumbuhan pembentukan karakter/bakat anak tidak bisa terbentuk. Pembelajaran daring banyak orang tua yang kesulitan mendidik putra-putrinya belajar, alhasil orang tua yang mengerjakan tugas anak. Itu bagi orang tua yang di rumah. Kalau anak yang orang tuanya kerja pagi pulang malam, maka anaknya belajar daring atau tidak mereka tak mengetahuinya,“ papar Putri.

“Lost generation, kalau saya tetap optimis itu tidak akan terjadi. Karena saya punya keyakinan kehidupan akan mencari jalannya sendiri. Ibarat kehidupan itu air di depan ada tembok tinggi (pandemi covid) air kehidupan itu akan mencari celah untuk bisa mencapai tujuan. Pandemi ini ada pelajaran yang sangat berharga untuk kita semua,” ungkap Sony.

“Kemungkinan besar karena pandemi, kedepannya akan terbentuk generasi yang tertata baik dan sangat peduli kebiasaan sehat,” tulis Sri Almi.

 

[Diunggah oleh Avrilia Wahyuana]

About author
Jurnalis di Radio Solopos FM Group. Menulis konten di Solopos FM Group yaitu website soloposfm.com dan Radio Solopos FM.
Lihat Seluruh Tulisan

Tinggalkan Komentar