• Thursday, 30 June 2022
  • Waktu Server 04:08 WIB

Ancaman Hepatitis Misterius, Dokter Spesialis Patologi Klinik UNS : Hepatitis Ini Bukan Misterius Dalam Arti Luar Biasa

Caption: Ilustrasi sampel virus hepatitis (Freepik)

SoloposFM, Penyakit hepatitis misterius yang banyak diderita anak-anak kini sudah masuk Indonesia. Bahkan penyakit ini sudah dikategorikan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Berdasarkan catatan WHO, ada lebih dari 170 kasus dilaporkan oleh lebih dari 12 negara. WHO pertama kali menerima laporan pada 5 April 2022 dari Inggris Raya mengenai 10 kasus Hepatitis Akut yang Tidak Diketahui Etiologinya (Acute Hepatitis of Unknown aetiology ) pada anak-anak usia 11 bulan-5 tahun pada periode Januari hingga Maret 2022 di Skotlandia Tengah.

Kisaran kasus terjadi pada anak usia 1 bulan sampai dengan 16 tahun. Tujuh belas anak di antaranya (10%) memerlukan transplantasi hati, dan satu kasus dilaporkan meninggal

Di Indonesia, Kementerian Kesehatan Ssaat ini sedang berupaya untuk melakukan investigasi penyebab kejadian hepatitis akut. Utamanya melalui pemeriksaan panel virus secara lengkap. Kemenkes meminta kepada orang tua di Indonesia, jika anak-anak memiliki gejala kuning, sakit perut, muntah-muntah dan diare mendadak, buang air kecil berwarna teh tua, buang air besar berwarna pucat, kejang, penurunan kesadaran, segera dibawa ke fasilitas layanan kesehatan terdekat.

Baca juga : Mantap Sob! Car Free Day Solo Diperpanjang Sampai Koridor Sudirman!

 

Tak hanya dari virus

 

dr Tonang Dwi Ardyanto Sp PK PhD, Dokter Spesialis Patologi Klinik dari RS UNS dalam Dinamika Selasa (17/05/2022) mengungkapkan Hepatitis sebenarnya bukan penyakit baru.

“Hepatitis itu paling banyak memang karena virus. Tapi ada juga penyebab lain seperti konsumsi alkohol jangka panjang. Kemudian hepatitis akibat racun. Bisa dari berbagai zat kimia, racun, obat  tanpa kendali,  dll. Ada lagi Hepatitis karena auto-imun. Artinya terjadi reaksi tubuh terhadap zat dari dirinya sendiri,” papar Tonang.

Terkait hepatitis jenis baru yang sedang ramai, menurut Tonang termasuk hepatitis akibat virus.

“Selama ini kita kenal Hepatitis akibat virus itu disebabkan virus hepatitis A, B, C, D dan E. Diantara itu yang paling sering kita dengar adalah A, B dan C. Sudah sering kita temui dan hadapi. Yang baru ini, gejala dan tandanya mirip sekali dengan Hepatitis A. Hanya ketika di tes di laboratorium, tidak didapatkan parameter-parameter terkait virus Hepatitis A. Bahkan juga untuk virus hepatitis B, C, D dan E. Maka diduga penyebabnya adalah  hepatitis akibat virus baru,” ungkapnya lebih lanjut.

Tonang menilai hepatitis ini bukan misterius dalam arti luar biasa. Namun pemeriksaan labnya tidak cocok dengan yang A, B, C, D dan E. Iapun meminta masyarakat untuk waspada.

“Hepatitis A sudah lama kita kenal. Hanya kita menganggap selama ini hepatiitis A itu seolah tidak bahaya. Kita biasanya terpaku pada hepatitis B dan C. Padahal itu justru sifatnya kronis, jangka panjang. Sedangkan Hepatitis A sifatnya akut dan bisa berbahaya. Ada yang disebut hepatitis fulminan. Artinya akut, mendadak, berat dan bisa berisiko fatal. Apalagi pada anak-anak. Jadi walau mirip hepatitis A, tetap saja kita harus hati-hati karena memang berbahaya. Soal menemukan virus penyebabnya, semoga segera dapat dipastikan. Yang penting saat ini, adalah kehati-hatian. Tidak perlu panik, tidak perlu paranoid. Kita telah belajar banyak selama pandemi covid. Kita baru saja mengetahui adanya hepatitis baru. Pasti nanti juga akhirnya kita jadi tahu banyak,” papar Tonang.

Baca juga : Menjelang Perayaan Waisak, Berikut Tradisi Waisak di Indonesia!

 

Opini Sobat Solopos

 

Dalam Dinamika Selasa (17/5/2022) Sobat Solopos mengungkapkan sejumlah opininya. Berikut opini mereka dan juga hasil poling di Instagram SoloposFM @SoloposFMSolo :

 

 

“Menurut saya, kalau dicermati sumbernya dari apa yang kita konsumsi, kebersihan lingkungan dan jangan lupa sumber air. Mungkin harus gencar di teliti lagi sumber air sumur ataupun PDAM, apakah layak konsumsi atau tidak? Dan selalu jaga kebersihan. Jangan kebanyakan jajan di luar dan harus ada edukasi ke pedagang dari dinas kesehatan dan pangan. Terutama kantin-kantin sekolah,” ungkap Nur Syamsiah.

“Kalau saya anak bawa bekal dari rumah dan tidak di beri uang jajan. Uang jajan untuk di tabung saja. Semoga segera diketahui penyebabnya dan segera teratasi,” tulis Dias.

Jurnalis di Radio Solopos FM Group. Menulis konten di Solopos FM Group yaitu website soloposfm.com dan Radio Solopos FM.
Lihat Seluruh Tulisan

Tinggalkan Komentar