“AIRMATA AIR” Komposisi Musik Air dan Sinematografi

“AIRMATA AIR” Komposisi Musik Air dan Sinematografi

Post Festival – Bentara Budaya Balai Soedjatmoko Solo – Rabu, 4 September 2019, 19.30

Karya : Memet Chairul Slamet

SoloposFM, Air sumber segala kehidupan semua mahluk alam semesta yang sekaligus merupakan sumber malapetaka saat manusia tidak lagi menjaga kejernihannya. Air telah ternodai oleh keserakahan manusia yang tidak lagi punya kesadaran untuk menjaganya, sungai-sungai yang dulunya mengalir kejernihannya kini menjadi kotor dan kumuh, karena sungai difungsikan sebagai akhir pembuangan sampah.

Selama ini kita membiarkan air tercemar menjadi sarang penyakit serta menjadi ancaman yang nyata bagi kelangsungan hidup manusia. Bisakah kita menutup mata atas kondisi lingkungan yang menjadikan air bersih semakin langka. Sepertinya kata sudah kehilangan maknanya. Air menjadi saksi dengan bunyi yang bersumber dari air itu sendiri betapa jagat sangat ikut berduka , ketika mata air menjelma air mata atas kelalaian dan ketidak pedulian manusia yang enggan menjaganya.

Berangkat dari gagasan tersebut muncul kesadaran musikal, bahwa kepadatan ritmis hanya ada pada air yang sedang mengalir, ia tampak tenang , namun di dalamnya terdapat banyak dinamika ritmis yang bisa kita tangkap dengan kasat mata dan dapat diwujudkan dalam analogi pesepsi yang faktual untuk mengingatkan dalam bentuk karya simbolis berupa karya musik sinematografi.

Pada garapan ini, air sebagai materi utama untuk mengerakkan komposisi ditata sedemian rupa dengan menunjukan sumber asli kejadian bunyi air maupun dalam kontek persepsi pandang dengar dengan mengabaikan alur linear tetapi masih menjaga dinamika dramatiknya. Senimatografi membentuk struktur bunyi yang dalam pertimbangannya diperlukan untuk penajaman pesan yang kadang kala hadir dengan nyata didepan penonton, yang sebelumnya hanya ada dalam gambar video.

Penggunaan instalasi air selain untuk kebutuhan air yang akan dimainkan secara live juga merupakan bagian penting dari tata artistiknya. “AIRMATA AIR” adalah karya instalasi seni yang menghasilkan bunyi dan visual yang dipadukan dengan performance.

Seniman kontemporer yang akan menggambarkan kondisi air kita ini bernama Memet Chairul Slamet. Pemilik nama lengkap “Dr. Raden Chairul Slamet, M.Sn.” ini merupakan dosen Program Studi Penciptaan Musik ISI Yogyakarta, terkenal sering mementaskan musik eksperimental yang bertemakan alam, sebut saja : Musik Kaleng, Musik Sawah, Kolosal Doa Anak Negeri, Musik Air “Water n, I”, dan yang terbaru “Musik Batu” sebagai judul desertasi. “AIRMATA AIR” merupakan rekonstruksi dari karya Memet Chairul Slamet sebelumnya yaitu pada jum’at 9 juni 2009 Memet pertama kali menggelar karya instalasi air yang berjudul “Water n’ I” di Taman Budaya Yogyakarta dengan penari Irawati Kusumorasri (sekarang direktur SIPA) dan Agung Gunawan (sekarang direktur SACPA). Kini 10 tahun telah berlalu, dan Memet Chairul Slamet yang telah menyelesaikan program doktoralnya ini kembali mementaskan karya instalasi air dan sinematografi dengan judul baru “AIRMATA AIR” di Post Festival 2019 gagasan Prof. Sardono W. Kusumo pada rabu 4 september 2019 pukul 19.30 di Bentara Budaya Balai Soedjatmoko Solo.

Karya ini didukung oleh para pelaku seni yang mempuni di bidangnya, untuk senimatografi digarap oleh Paknyang Kutai, sedangkan gerak/tari ditata oleh Doktor Martinus Miroto dengan penarinya Radha, sedangan artistik digarap oleh Titok Pengesthi Aji dan Dwi Heryana, sound mixing oleh Ahmed Sinar, team kreatif Richa Amalia dan team Bentara Budaya Balai Soedjatmoko Solo.

Dipilihnya tema “AIR” pada garapan instalasi musik “AIRMATA AIR” ini senada dengan tema ulang tahun Bentara Budaya Solo yang bertema “1001 Warna Bengawan”. Memet Chairul Slamet berharap karya ini dapat membuka mata dan hati masyarakat untuk lebih mencintai lingkungan, terutama air.

Post Festival sendiri diselenggarakan oleh Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta dengan tujuan untuk memberikan gagasan baru tentang sebuah festival yang didasari oleh riset, training, dan eksperimentasi yang dimentori oleh pakar-pakar seni dengan mengedepankan kekuatan tiga pilar utama, yaitu para seniman individu, institusi, serta komunitas kreatif. Ciri dari Post Fest adalah kompatibel dan bisa bersentuhan dengan potensi seni serta ruang budaya yang beragam. Makanya, di Solo, Post Fest diadakan di Kampus UNS Mesen (30 Agustus-15 September), UNS Inn (1 September), Pendapa Balai Kota Solo (1 September), Jurug Solo Zoo (31 Agustus dan 6-8 September), Bentara Budaya Balai Soedjatmoko (4 September) dan Kampus IELC (7-8 September).

Jagalah air kita, karna selain sebagai sumber kehidupan, air juga bisa menjadi sumber kematian. Maka sayangi dan rawat air di bumi Indonesia ini.

Selamat menikmati “AIRMATA AIR”.

[Avrilia Wahyuana]

Post Comment