Hapus Stigma Negatif, Pasoepati Boyolali Gelar Buka Puasa sambil Berbagi

Hapus Stigma Negatif, Pasoepati Boyolali Gelar Buka Puasa sambil Berbagi

SoloposFM, Momen suci bulan Ramadan 1440 H menjadi ajang Pasoepati District Ngemplak dan Nogosari menggelar buka puasa sambil berbagi. Aksi peduli antar anak bangsa di Yayasan Achmad Mariyam Mubarak ini, juga membagi sembako hingga peralatan harian. Acara berlangsung di rumah makan Ndudak Nogosari, Boyolali, Minggu 26 Mei 2019.

Sebagaimana rilis yang diterima Solopos FM, Koordinator Panitia, Achmad Luthfi Fathoni, menuturkan buka puasa ini sebagai wujud menjalin silaturahmi dan menghapus stigma negatif.

“Ini sebagai wujud praktik beragama dalam bentuk silaturahmi dan peduli, untuk menekan stigma masyarakat yang hanya memandang suporter atau segerombolan orang, kelompok ataupun masa yang hanya suka bikin onar dan mabuk-mabukan, acara berbuka puasa bersama, kita mengundang Pegiat Tahsin Jatmiko dan budayawan Ki Agung Sudarwanto untuk memberikan tausiyah. Beliau ustaz asal Solo, dengan ilmu agamanya kita berharap bisa memberikan pencerahan agama kepada kami,” ungkapnya.

Achmad menambahkan, acara ini juga menunjukkan suporter khususnya Pasoepati memiliki sisi lain yaitu religius, jiwa gotong royong dan kekeluargaan yang erat.

“Kami Pasoepati District Ngemplak dan Nogosari akan memberikan contoh hal yang positif dalam setiap kegiatan yang kami adakan, karena termasuk suporter terbesar di Indonesia yang cukup berpengaruh dalam kancah sepak bola di Indonesia,” ujarnya.


Ngaji Bareng Pasoepati

“Pasopati” merupakan nama dari pusaka Arjuna yang diperoleh dari hasil bertapanya digunung Indrakila dengan sebutan Begawan Ciptawening atau Begawan Mintaraga.

Harjuna waktu itu memperoleh pusaka sakti dengan yaitu PASOPATI, PASO = tepat, PATI = kematian. PASOPATI merupakan strategi yang tepat dalam menghentikan keangkara murkaan.

Dalam hal ini perlu adanya pengendalian diri untuk mencapai tujuan. Pusaka tersebut digunakan Harjuna dalam membinasakan Prabu Niwatakawaca raja raksasa yang membuat onar di Kahyangan Suralaya.

Berkat niat dan tekad yang ikhlas, Harjuna berhasil menjadi “jagoning dewa” menentramkan suasana Kahyangan Suralaya. Demikian juga para pemuda dimasa sekarang diharap mampu mengekang “nafsu” / “kemarahan” demi terciptanya ketentraman dunia beserta isinya.

“KATRESNAN” = “CINTA KASIH”. Bukan sekedar CINTA terhadap lain jenis tetapi lebih dari itu, yaitu : cinta sesama, cinta lingkungan dan CINTA terhadap alam semesta.

“Perjalanan hidup. Diungkapkan dalam bahasa Jawa : “Urip iku saka sapa ?, Urip iku arep ngapa ?, Pungkasane urip kepriye ? Terjemahan : Hidup ini dari siapa ?, Hidup ini untuk apa ?, Akhir dari kehidupan ini bagaimana ? Ketiga pertanyaan itu harus tertanam di lubuk hati kita, dalam upaya pengendalian diri dan intropeksi diri. Semoga bermanfaat bagi hidup dan kehidupan kita. Salam Paseduluran Sak Lawase,” ungkap Ki Agung Sudarwanto, S.Sn., M.Sn sekaligus Budayawan dan seorang Praktisi Seni Pedalangan.


Sementara itu, Ustaz Jatmiko menyampaikan bahwa generasi muda salah satu kekuatan bagi suatu umat atau negara. Jika kita lihat melalui konteks keislaman, tentu Islam menaruh perhatian besar terhadap generasi muda.

Bukan hanya sekedar mengikuti arus perkembangan zaman, namun bersaing melawan zaman itu sendiri agar hidupnya tidak mudah goyah dan tetap berpegang teguh kepada Al Qur’an. Perhatikan Al Qu’an surah an-Nisa ayat 9 sebagai berikut:

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”

[Avrilia Wahyuana]

Post Comment