Sehari Pesta Kopi di De Tjolomadoe

Sehari Pesta Kopi di De Tjolomadoe

SoloposFM – Radio Solopos FM untuk kali pertama menggelar hajatan festival kopi di parkir timur De Tjolomadoe, Jumat (3/5). Pecinta kahwa icip-icip nikmatnya “lebaran” kopi lebih awal dari racikan puluhan pelapak kopi Soloraya dan Jawa Tengah.

Acara bertajuk Festival Kopi with Solopos FM itu penyelenggaraannya dibarengkan dengan Solo Best Brand Index-Jogja Best Brand Index (SBBI-JBBI) 2019 berkonsep brand concert dengan bintang tamu spesial Padi Reborn.

Sejak senja tiba, pecinta kopi mulai berdatangan ke lokasi acara. Jajaran mobil dan motor antik menyambut pengunjung di beranda festival. Begitu menapaki tempat hajatan icip-icip kopi, stan tenda dan warung berkonsep dinamis dengan mobil (foodtruck) ditata berjajar.

Langkah Dedi Utomo, 32, terhenti di depan deretan stan Komunitas Kopi Tawangmangu. Jajaran toples berisi jus buah segar seperti lemon, nanas, daun mint, dan jeruk manis ditata bersebelahan dengan peralatan menyeduh kopi. “Yang istimewa di sini apa, mas?” tanyanya kepada penjaga stan.

Di sini ada kopi tropikal,” jawab Miftahul. A.D.N, pegiat Komunitas Kopi Tawangmangu. Racikan minuman tersebut dijelaskan Miftahul menggunakan seduhan kopi espresso jenis house blend dari kopi robusta dan arabika asli Karanganyar.

Kopi ini diberi infusi sari buah-buahan hasil pertanian petani Ngargoyoso, Karangpandan, dan Tawangmangu yang tinggal di kaki Gunung Lawu. Tujuan infusi dengan buah tropis untuk menebalkan cita rasa kopi khas Lawu yang biasanya menguarkan aroma buah.

Mixed signature ini idenya baru semalam dapat. Kami ingin mainin kopi dan buah dari petani lokal. Biar kata orang gunung, kami berani berspekulasi di festival ini,” kata Miftahul.

Kopi tropikal dengan campuran nanas, jeruk manis, lemon, dan daun mint baru perdana dikeluarkan komunitas yang terbentuk 2017 lalu itu. Respons pengunjung menyambut minuman ini pun positif. “Enak sih. Segar. Cocok buat cuaca gerah kayak gini,” kata Dedi.

Selain menampilkan eksotisme kopi tropikal, ada juga kedai yang memanfaatkan festival sebagai ajang pengenalan produk anyar. Pemilik D’Coffee Club, Sahil Mulachela, baru sebulan membuka kafe di Jl Kiai Mojo No. 108 Pasar Kliwon Solo.

Kepada pengunjung yang mendatangi stannya, Sahil bercerita produk signature buatan kedainya adalah kopi rempah. Berbeda dari kopi rempah kebanyakan, dia mengolah minumannya menggunakan standar golden ration dan cara penyeduhan khas budaya kopi gelombang ketiga.

Penyajian kopi ini dibuat lebih memikat dengan membubuhi bagian atas kopi dengan foam yang dibakar dengan burner. Untuk sesi pamungkas, seduhan minuman istimewa ditaburi gula Jawa. “Begitu gulanya turun, lumer, hasilnya gurih kayak salt caramel,” terang Sahil.

Ada juga pengunjung yang tertarik menjajal menu Irish Latte seduhan Black Bird Coffee. Minuman ini dibuat dari double shot espresso, susu yang sudah di-steam, serta diberi foam. Untuk sentuhan akhir, baru ditambahkan sirup Irish yang aslinya dibuat dari whiskey.

Hari ini favorit pengunjung di sini Irish Latte,” kata Rofiko Widia, Barista Black Bird.

Magnet lain yang jadi buruan pengunjung adalah kopi gratis. Sebanyak 1.500 gelas kopi dibagikan secara cuma-cuma. Pengunjung bisa icip-icip kopi gratis seduhan 20an kedai favorit peserta festival disamping membeli produk signature mereka.

Kabid Penyuluhan, Pascapanen, dan Bina Usaha Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Provinsi Jawa Tengah, Harjuli Hatmono, mengapresiasi acara perdana Festival Kopi with Solopos FM. “Dari acara festival seperti ini terlihat masyarakat menyadari besarnya potensi kopi di negara ini,” kata Harjuli.

Menurut Harjuli, sebagian petani kopi saat ini juga sudah melek teknik budidaya kopi. Hal itu berdampak pada kesejahteraan petani. Dari 35 kabupaten dan kota di Jawa Tengah, kopi asal Temanggung paling potensial dikembangkan. Sementara di Soloraya; Klaten, Boyolali, Karanganyar, dan Wonogiri merupakan daerah penghasil kopi yang punya potensi berkembang.

Kami dorong daerah untuk menghasilkan specialty. Hasilnya juga perlu ditingkatkan dari 1,5 ton/ha menjadi 3,5 ton/ha, potensinya bisa 5 ton/ha,” kata dia.

Stasion Manager Solopos FM, Intan Nurlaili, menuturkan acara perdana festival kopi yang diselenggarakan pihaknya baru pemanasan. “Animo acara ini luar biasa. Ada sinergi dari pemerintah, kafe, kedai, dan komunitas. Ke depan kami ingin buat yang lebih spektakuler lagi,” jelasnya.

Selain menumbuhkan apresiasi kopi, Intan mengatakan festival kahwa tersebut juga bertujuan menggeliatkan perekonomian lokal. “Harapannya ekonomi lokal dari hulu sampai hilir kopi bisa tumbuh lewat acara semacam ini,” ujar dia.

[Mahardini Nur Afifah/ Avrilia Wahyuana]

Post Comment