Kolaborasi Wayang Kulit dan Orang Adu Aksi di Hari Wayang Dunia 2018

Kolaborasi Wayang Kulit dan Orang Adu Aksi di Hari Wayang Dunia 2018

SoloposFM – Sebanyak 40 siswa Sekolah Dasar Swasta Rujukan (SDSR) SD Muhammadiyah 1 Ketelan, Solo tampil di ajang Gebyar Wayang Jagad Mendalang Strategi Pemajuan Kebudayaan Hari Wayang Dunia 2018, Rabu (7/11/2018) di Pendapa Ageng “GPH Joyokusumo” Kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Mereka beradu keterampilan, mengolah kemampuan dalam pagelaran padat berdurasi lebih kurang 60 menit.

Aksi dalang cilik kolaborasi wayang orang ini sungguh menarik hati dan bikin gemas. Hari itu, para siswa ini benar-benar jadi idola generasi kekinian di Era Industri 4.0.

Gibran Maheswara, 7 tahun, satu diantara siswa berbakat SD Muhammadiyah 1 Ketelan, Solo. Anak kelahiran Karanganyar, 10 Juni 2018 ini, menyajikan lakon “Tetuka Sang Gathutkaca”.

“Alhamdulillah, Gibran bisa ikut lagi Hari Wayang Dunia kedua kalinya, semoga tahun depan bisa ikut lagi. Apalagi kali ini pementasannya dengan wayang orang. Senang bisa menghibur banyak orang,” ujar siswa kelas satu ini, Rabu (7/11/2018).

Tubuh mungil dalang cilik itu tenggelam dikepung belasan tokoh wayang yang berjejer di kelir Selain itu, tangannya yang begitu imut, dengan lincah memainkan beragam tokoh wayang dalam lakon ‘Jabang Tetuko’.

“Dalam pagelaran wayang ini, dikisahkan tentang proses pendewasaan dalam pembentukan karakter seseorang ditentukan lingkungan pendidikan dalam hal ini sekolah, keluarga, dan lingkungan sekitar. Hal itu sebagaimana yang dialami Jabang Tetuka dalam proses pendewasaannya yang telah ditempa atau di didik oleh para dewa di Kahyangan dan Do’a/restu seorang ibu (Arimbi) dan para tetua. Untuk pembentukan karakter Jabang Tetuka diuji menyelesaikan permasalahan di Kahyangan. Ia dipercaya oleh Dewa sebagai Jagoning Dewa untuk menhentikan keinginan Prabu Pracona menjadi Raja di Kahyangan. Berkat restu ibu dan pendidikan dari para dewa, ia berhasil menciptakan ketentraman di Kahyangan Suralaya ditandai dengan kematian Prabu Pracona,” Gibran mengisahkan.


Sementara itu ayah dari Gibran, Agus Setyawan, SST. mengaku bangga akan kemampuan anaknya. Meskipun tidak berdarah seni, namun putra pertamanya tersebut dapat mendalang.

“Sejak awal dari kemauan anak saya sendiri yang meminta untuk belajar jadi dalang,” ucapnya.

Terpisah, Wakil Kepala Sekolah (Wakasek) bidang humas, Jatmiko, menyampaikan ucapan terima kasih kepada Dr. Drs. Guntur, M.Hum Rektor ISI beserta jajarannya, yang telah bersedia memberikan fasilitas berupa tempat untuk menggelar wayang kulit, yang dalang dan pengrawitnya dimainkan para siswa SD Muhammadiyah 1 Ketelan dan diperkuat Agung Sudarwanto, S.Sn., M.Sn., Rohmadin, S.Sn., Sri Suwanti, S.Pd., Danardono Sri Pamungkas, S.Sn.

[Avrilia Wahyuana]

Post Comment