80% Warga Soloraya Tidak Siap Hadapi Bencana

80% Warga Soloraya Tidak Siap Hadapi Bencana

Solopos FM – 80% Warga Soloraya ternyata tidak siap dan tidak memiliki persiapan jika  bencana alam tiba-tiba terjadi di daerahnya. Hal tersebut disebabkan karena mereka menganggap bahwa bencana itu urusan Tuhan Yang Maha Esa. Hal tersebut diungkapkan Doktor Ilmu Manajemen, peneliti manajemen risiko bencana untuk The Australia-Indonesia Facility for Disaster Reduction (AIFDR) AUS-AID Anton Agus Setyawan, ketika menjadi narasumber pada program Dinamika 103 Solopos FM, Sabtu (6/10) lalu.

Temuan itu didapat ketika pihaknya melakukan riset pengukuran persepsi masyarakat Soloraya terhadap risiko bencana. “Dan ketika ditanya adakah persiapan yang mereka lakukan ketika tiba-tiba terjadi bencana, 80% dari mereka menjawab, ‘tidak’,” ujar Anton.

Hal ini, lanjutnya, menjadikan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sulit untuk menyusun manajemen risiko bencana. “Agak susah mengajak masyarakat untuk aware dan mempersiapkan diri ketika terjadi bencana karena mereka menganggap bencana itu bisa terjadi setiap saat dan tidak bisa diprediksi.”

Sebenarnya menurut Anton setiap Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sudah memiliki dokumen peta yang mengidentifikasi risiko bencana yang ada di wilayahnya. “Hanya saja belum disosialisasikan atau disimulasikan secara periodic kepada masyarakat, kecuali setelah bencana alam terjadi seperti di Bantul beberapa tahun lalu, baru dilakukan,” kata dia.

Tidak hanya itu, Anton juga berpendapat pemerintah daerah juga belum aware untuk melakukan hal ini sehingga kegiatan tersebut belum dimasukkan dalam anggaran daerah. “Tapi tidak ada anggaran sebenarnya bukan halangan. BPBD yang dinaungi oleh pemerintah bisa menggandeng perguruan tinggi . Mereka sudah konsern sekali dengan permasalahan ini bisa dilibatkan untuk melakukan simulasi.”

Artinya, peran aktif dari BPBD sangat diharapkan dalam melakukan sosialisasi dan simulasi. Selama ini, mereka dianggap sudah berperan aktif namun baru dalam hal tanggap darurat setelah bencana terjadi, sedang untuk sosialisasi di awal belum optimal.[]

Intan Nurlaili

Post Comment