Play Streaming Now!!
hot news

Era Digital, Dimanfaatkan Positif Atau Untuk Sebar Hoax Saja?

Posted : Senin, 8 Oktober 2018 13:47 /     /   no komentar

SoloposFM – Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) seperti pisau bermata ganda, bisa positif dan negatif. Akibat perkembangan TIK yang pesat, individu menjadi malas untuk bersosialisasi secara fisik, terjadi cyber bullying, hingga tersebarnya konten negatif yang berkembang pesat. Fitnah, berita bohong atau hoax dan juga pencemaran nama baik terjadi secara luas.

Namun, TIK sangat membantu dalam proses pembelajaran. Dimana segala informasi pendidikan dapat diakses dengan cara lebih mudah dan cepat. Akan tetapi, dampak negatifnya dengan pelayanan TIK yang menawarkan kemudahan di dalam proses pembelajaran, membuat kita menjadi malas untuk membaca buku-buku pendidikan. Hal ini akibat pengaruh dari hal-hal yang diakses secara instan.

Paparan tersebut diungkapkan oleh Ketua Dewan Penddikan Kota Solo Drs. H.M. Joko Riyanto, SH., MM., MH., dalam seminar pendidikan yang mengusung tema “Literasi TIK di Era Digital untuk Penguatan Pendidikan Karakter”. Kegiatan tersebut diselenggarakan SD Muhammadiyah 1 Ketelan Solo, dalam puncak acara Milad 83 yang berlangsung di Sahid Jaya Hotel Solo. Seminar diikuti 250 peserta, pada Sabtu(06/10/2018).

Peserta terdiri dari pengawas sekolah, Kepala SD Korwil se Kecamatan Banjarsari, IKSM Perguruan Muhammadiyah, Paguyuban Orang Tua Siswa (PGOTS), Komite Sekolah, Majelis Dikdasmen Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Solo, kepala sekolah TK Mitra, Paguyuban Orang Tua Siswa, dan para guru.

Nara sumber seminar selain Drs. H.M Joko Riyanto, SH., MM., MH., Ketua Dewan Pendidikan Solo, juga hadir Dwi Nurani, S.KM., M.Si, Fungsional Umum atau Analis Pelaksana Kurikulum, Subdit Kurikulum Direkrotat Pembinaan Sekolah Dasar, Kemendikbud RI dan DR. Sutanto, S.Si., DEA, Pakar Informatika Universitas Sebelas Maret. Seminar dipandu dipandu moderator, Avrilia Wahyuana dan dihadiri Kepala Dinas Pendidikan Etty Retnowati, SH., MH.

Dalam paparannya, Sutanto menyampaikan agama dan sains adalah dua kekuatan yang menyatu dalam akal dan kepercayaan manusia bagi orang yang berfikir kritis dan kreatif. Keduanya saling memberi inspirasi, saling memotivasi untuk menggali ilmu Tuhan di alam ini yang tiada habisnya. Kitab Rasul diturunkan dalam bahasa Arab agar kita semua berfikir.

“Berpikir kritis itu bukan asal beda pendapat dengan orang lain tapi berpikir dengan menjalankan fungsi logika dan seni, sehingga akan memunculkan kreativitas siswa dalam melakukan analisa dan mengambil tanggungjawab pada setiap masalah yang kompleks,” beber Sutanto yang merupakan Staf Ahli Rektor Bidang Kemahasiswaan, Kerjasama dan Pengembangan Usaha Universitas Sebelas Maret ini.


Sementara itu, Dwi Nurani, S.KM., M.Si., Fungsional Umum Direktiorat PSD Kemdikbud menekankan pentingnya Warga Golobal memiliki 3 kecakapan.

“Semua orang bisa melakukan apapun dan lintas negara di era informasi ini. Anak perlu dibekali kompetensi di dalamnya ada berpikir kritis, komunikasi, kreativitas, kolaborasi, multiliterasi baik literasi digital, finansial, numerasi, sains, budaya dan kewargaan dan literasi baca tulis, serta peneguhan 5 karakter utama mulai Religius, Integritas, Mandiri, Nasionalis gotongroyong ” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Sekolah SD Muhammadiyah 1 Ketelan, Solo Sri Sayekti, S.Pd., M.Pd meluncurkan Radio Streaming Pendidikan “Solo Belajar”. Radio streaming ini, diresmikan Pimpinan Daerah Muhammadiyah, Drs. KH. Subari. Materi siaran radio ini, akan fokus pada bidang pendidikan. Radio Solo Belajar akan menajdi wahana kegiatan ekstrakurikuler jurnalistik dan penyiaran. Sekaligus sebagai sarana syiar untuk kemajuan pendidikan, dari SD Muhammadiyah 1 Ketelan, Solo untuk Pendidikan Indonesia.


Perlu kami sampaikan selama kurun waktu satu tahun SD Muh1 telah meraih berbagai prestasi akademik maupun non akademik 190 anak telah meraih prestasi dari tingkat Kecamatan sampai Nasional. SD Muh1 menempatkan diri diperingkat 5 besar USBN tahun ajaran 2017/2018, menjadi sekolah PPK, Sekolah Model TIK, Sekolah Adiwiyata, Sekolah sehat, sekolah rujukan Budaya Direktorat kesenian Kemdikbud dan baru saja menjadi SDSR (Sekolah Dasar Swasta Rujukan) Direktorat PSD Kemdikbud, semoga tidak menjadikan jumawa tapi semakin memberikan manfaat bagi pendidikan yang berkemajuan” kata Sri Sayekti melalui rilisnya kepada Solopos FM, Sabtu (6/10/2018).

Avrilia Wahyuana]