• Pembangunan Ruang Pameran Kreatif Bergantung Dana Pusat

    Anung Indro Susanto (Dok/JIBI/SOLOPOS)

    SOLO–Pengembangan ekonomi kreatif di Solo salah satunya bakal mengandalkan pembangunan ruang pameran produk lokal di kompleks Solo Techno Park (STP).  Sayangnya, pembangunan yang diplot sepaket dengan pengembangan Solo Trade Center (STC) ini belum menemui kejelasan dana. Pemkot masih menunggu kucuran dana dari pusat untuk membangun gedung bagi pelaku UMKM dan produk kreatif itu.

    “Tahun lalu APBD menganggarkan Rp6 miliar untuk pembangunan konstruksi. Sedangkan gedung dan infrastruktur dimohonkan ke pusat,” ujar Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Solo, Anung Indro Susanto, di Balaikota, akhir pekan kemarin.

    Menurut Anung, STC diproyeksi untuk promosi produk vokasi di bidang teknologi maupun produk kreatif generasi muda. Sebelumnya, PT Solo Manufaktur Kreasi selaku pengelola Esemka juga telah membidik STC sebagai ruang eksibisi. Meski belum terealisasi, Anung mengakui sudah ada pelaku usaha kreatif yang tertarik berpromosi di STC.

    “Ruang ini direncanakan menjadi tempat pameran produk lokal yang bernilai jual.”

    Pihaknya memprediksi butuh dana hingga Rp25 miliar untuk merampungkan infrastruktur gedung STC. Infrastruktur tersebut, imbuhnya, meliputi pembuatan akses jalan, penyediaan taman dan pengadaan alat kantor. Pihaknya mengaku telah mengajukan permohonan dana ke pusat melalui Kementerian Perdagangan dan Kementerian Pekerjaan Umum.

    “Sampai sekarang belum ada jawaban. Kami akan tetap aktif berkomunikasi sampai dana dari salah satu kementerian tembus.”

    Sementara itu, Pemkot juga masih menyelesaikan pembangunan ruang edukasi dan perdagangan di lantai dua teaching factory STP. Anung menyebut tahun ini Pemkot mengalokasikan Rp3miliar untuk pengembangan tersebut.

    Di sisi lain, pegiat Solo Creative City Network, Dhian Lestari Hastuti, mengatakan kebutuhan ruang pameran produk tak terelakkan seiring penetapan Solo menjadi kota rintisan ekonomi kreatif. Dhian yakin keberadaan STC mampu mengakomodasi kebutuhan pelaku usaha bidang desain untuk memamerkan karyanya.

    “Pelaku usaha kreatif di Solo cukup banyak, seperti arsitektur, periklanan, percetakan dan kerajinan batik. Idealnya Pemkot bisa memfasilitasi potensi ini,” katanya.

    Lebih jauh, dirinya yakin keberadaan program studi desain di dua perguruan tinggi di Solo mampu menggeliatkan STC di masa depan. “Lembaga pendidikan tak dapat dipisahkan dari pembentukan atmosfer kreatif kota.”

    Leave a reply →

Leave a Reply

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.