• GREBEG MAULUD
    Demi Berkah, Mengais Sisa Gunungan Dilakoni...


    Ribuan warga menyaksikan kirab gunungan Grebek Mulud di halaman Masjid Agung Solo, Kamis (24/1/2013). Prosesi Grebek Mulud menjadi puncak perayaan Sekaten atau peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. (Burhan Aris Nugraha/JIBI/SOLOPOS)

    Ny Martongadiman terlihat menyapu halaman Masjid Agung Solo,  di antara ribuan orang  seusai perayaan Grebeg Maulud dalam rangka memperingati Hari Lahir Nabi Muhammad SAW, Kamis (24/1/2013).

    Hanya saja, niatan Ny Martongadiman untuk menyapu bukan dimaksudkan agar kondisi halaman masjid menjadi bersih. Melainkan, untuk mengais sisa-sisa hasil bumi dari gunungan yang sebelumnya diperebutkan oleh masyarakat. Tanpa rasa canggung, wanita asal Desa Manggis, Lalung, Karanganyar itu memunguti sisa rengginang yang sudah bercampur dengan pasir dan debu kemudian dimasukkan ke dalam tas plastik.

    “Niki mangke diguwak teng sawah [ini nanti mau dibuang di sawah],” katanya saat ditanya Solopos.com.

    Ny Martongadiman masih percaya hasil bumi yang diperebutkan saat perayaan grebeg mampu mendatangkan berkah.

    Sukane sawahe subur  [agar sawah saya subur],” terangnya.

    Ya, sebagian masyarakat memang masih percaya jika berbagai benda yang diperebutkan saat perayaan grebeg mampu mendatangkan berkah bagi siapapun. Salah satunya yakni Naryo, pria asal Sambi, Boyolali. Naryo mengaku memperebutkan gunungan hampir disetiap acara grebeg yang digelar oleh Keraton Solo.

    “Menurut orangtua ada berkah. Ya nanti ada yang digunakan untuk pupuk di sawah. Kalau yang bambu nanti digunakan untuk memagari sawah,” ungkapnya.

    Dikatakannya, berbagai barang yang diperoleh melalui grebeg mampu menenangkan pikiran. “Rezeki makin bertambah, pikiran terasa tenang,” imbuhnya.

    Sebelumnya, sepasang gunungan besar (gunungan jaler dan gunungan estri) serta sepasang gunungan kecil dikirab dari Keraton Solo- Masjid Agung. Belum selesai didoakan di Masjid Agung, gunungan itu menjadi rayahan masyarakat.

    Wakil Pengageng III Museum dan Pariwisata Keraton Solo, KRMH Satriyo Hadinagoro, mengutarakan Grebeg Maulud merupakan puncak Sekaten yang digelar sejak 17 Januari lalu. Disampaikannya, total biaya yang dikeluarkan dalam perayaan Sekaten selama sepekan mencapai Rp100 juta.

    Terkait Grebeg Maulud, Satriyo menuturkan semestinya berbagai hasil bumi yang ada di gunungan dibagikan rata kepada masyarakat bukan diperebutkan. “Saya tidak tahu mengapa sampai timbul istilah rayahan dan itu menjadi daya tarik. Yang benar itu didoakan dulu baru dibagikan merata,” ujarnya.

    Lebih lanjut, Satriyo mengajak masyarat untuk mengambil hikmah tentang tuntunan kehidupan dari perayaan Sekaten. Termasuk adanya istilah gunungan jaler dan estri. Sepasang gunungan itu menunjukkan kepada manusia untuk tidak selalu menuruti hawa nafsu belaka.

    Leave a reply →

One Response to “GREBEG MAULUD: Demi Berkah, Mengais Sisa Gunungan Dilakoni…”

  1. Nurul Umam Supraptono mengatakan:

    Yang dapat mendatangkan manfaat dan madharat hanya Allah, SWT. Allah tempat kita berharap dan tempat minta pertolongan.

Leave a Reply

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.