• Chef Hotel Yang Suka Masak di Pengungsian

    Chef Astini Moechsin, aktif menyebarkan ilmu memasaknya di dalam maupun di luar hotel. (JIBI/SOLOPOS/Adib Muttaqin Asfar)

    Profesi chef identik dengan gemerlap hotel dan kuliner mahal. Maklum, aktivitas kerja mereka memang lebih banyak berada di tengah-tengah hotel berbintang. Namun, tak selamanya kemampuan memasak mereka terkungkung di sana. Astini Moechsin adalah satu di antaranya.

    Dilihat dari penampilannya, perempuan kelahiran Jakarta 44 tahun lalu ini tak ubahnya seperti chef-chef hotel pada umumnya yang selalu tampil formal. Yang membedakan adalah apa yang dilakukannya di luar hotel, terutama saat waktu senggangnya di Windoromartani, Sleman, bersama ibu-ibu rumah tangga dekat kampungnya. Di sana, dia sering membagi keterampilan memasak kepada orang-orang kampung secara cuma-cuma.

    “Biasanya saya melakukan itu melalui Dasawisma, semacam arisan mirip PKK. Bukan hanya di kampung saya, tapi di dekat-dekat Jogja itu,” katanya saat ditemui di Lor In Hotel, Senin (17/12/2012) lalu.

    Astini mau melakukan semua itu karena memang itulah kesukaannya. Dia mengaku sangat bergairah jika memiliki kesempatan untuk bisa berbagi ilmu memasak dengan banyak orang baik secara formal maupun nonformal. Bahkan dia pun merasa tidak puas jika dalam sebuah kelas memasak yang dia masuki tidak ada banyak peserta. Selama ini Astini memang sering mengajar di berbagai cooking class, termasuk yang digelar di Lor In Hotel.

    Dia pun tidak ragu untuk berbagi resep pada orang-orang yang memang serius menginginkannya selama dia tahu benar resep pembuatannya. Membagi resep pada banyak orang tidak membuatnya khawatir bakal mendapat saingan baru.

    “Justru saya senang kalau ada orang berhasil dengan resep saya. Ini juga tantangan bagi saya, kalau orang sudah bisa membuat dengan resep saya, saya harus bisa menemukan resep baru.”

    Dalam membagi resep pun Astini enggan asal-asalan. Jika ada anggapan bahwa resep-resep dalam buku memasak ada yang dikurangi, Astini justru sebaliknya. Dia banyak berbicara tentang metode secara detil dan tidak hanya mengajarkan komposisi bahan.
    “Karena itu saya lebih suka kalau praktik langsung di depan orang dari pada memberi resep secara tertulis.”

    Selain itu, chef yang belum lama bertugas di Solo ini juga langganan terlibat dalam aktivitas sosial. Saat bencana letusan Merapi terakhir, dia dan rekan-rekannya sesama chef di Jogja membuka dapur umum di tempat pengungsian. Dengan kemampuan memasak yang dimiliki, mereka membuatkan ransum dan nasi bungkus dalam jumlah besar. Namun jangan salah, masakan mereka ini tidak dibuat untuk para pengungsi.

    “Para korban itu sudah banyak yang mengurus, tapi justru relawan tidak ada yang mengurus. Jadi kamilah yang memasak buat para relawan itu,” katanya.

    Leave a reply →

Leave a Reply

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.