Jokowi atau Foke

Bagikan : Facebook | Twitter | Digg | Technorati | Stumbleupon | Delicious |

internet

SOLO—Hari ini, adalah hari bersejarah.  Ini merupakan kali pertama, seorang walikota bertarung hingga babak kedua pemilihan gubernur di DKI Jakarta. Pemilihan gubernur DKI memang menjadi magnet yang luar biasa, karena seperti yang dikatakan banyak orang pemilihan umum  di Jakarta merupakan cermin untuk Pemilu berikutnya.

Yang dicatat dalam sejarah adalah juga keikutsertaan Walikota Solo—Joko Widodo. Jokowi menjadi fenemonal karena menjadi penantang  Fauzi Bowo, yang merupakan calon incumbent, yang berpengalaman 5 tahun sebagai gubernur.

Sepanjang waktu pemilihan  bahkan masa tenang begitu banyak isu yang menyerang kedua belah pihak. Ini bisa dikatakan dinamika politik yang muncul di setiap Pilkada. Namun, Pilkada memang menyimpan dinamikanya sendiri. Pada putaran pertama, misalnya, banyak prediksi terlontar Fauzi Bowo dan Nachrowi Ramli akan memenang Pilkada. Bahkan, dengan satu putaran. Lain prediksi, lain pula kenyataan di lapangan. Jokowi—Ahok muncul sebagai pemenang, meski tidak mutlak dan Pilkada harus diselenggarakan dua putaran.

Pada putaran kedua agak sedkit lain. Lembaga survei tidak sesemarak putaran pertama. Meski demikian, sejumlah lembaga survey merilis hasil survei dan hasilnya Jokowi menang tipis. Ya, namanya hasil survei bisa juga berbeda dengan kondisi riil lapangan.

Nah, bagamana pendapat Anda mengenai Pilkada Jakarta? Anda bisa berpendapat dan berkomentar mengenai hal tersebut dalam Progran Dinamika 103, pukul 08.05-10.00, Kamis (20/9),  melalui SMS ke 0817444103, 081226103103, atau telpon [0271] 739389, 739367.  [SPFM/ary]

Berita Terkait Kategori
  1. [*] SEKOLAH ANTI KORUPSI : “Kritikan untuk Pemerintah”
  2. [*] Penerimaan Pajak Turun, Apa Sebabnya?
  3. [*] INDONESIA BANGKIT : Adyaksa Dault: Elite Harus Bisa Jadi Contoh
  4. [*] INDONESIA BANGKIT: Bersihkan Dulu Penegak Hukum dari Korupsi
  5. [*] DINAMIKA 103: Desakan Jokowi nyapres menguat
  6. [*] DINAMIKA 103: Terancamnya jabatan PNS
  7. [*] Dualiasme Harga Premium
  8. [*] ‘Gaji dokter Indonesia terlalu rendah’

Leave a Response

*